Senin, 04 April 2016

SWABAKAR (SPONTANEOUS COMBUSTION)

SWABAKAR (SPONTANEOUS COMBUSTION) 


Bagi banyak perusahaan tambang batubara, merupakan masalah besar ketika stock batubara yang berada pada stockpile mereka mengalami swabakar (spontaneous combustion). Jika hal ini terjadi, akan mempengaruhi turunnya kualitas batubara dan tidak dapat dijual kekonsumen, bahkan jika proses ini dibiarkan terjadi, batubara yang berada pada stockpile akan habis terbakar.
Menurut Mulyana, hana (2005) mengatakan bahwa Spontaneous combustion atau disebut juga self combustion adalah salah satu fenomena yang terjadi pada batubara pada waktu batubara tersebut disimpan atau di storage / stockpile dalam jangka waktu tertentu. Proses spontaneous combustion diketahui dari proses self heating atau pemanasan dengan sendirinya yang berasal dari oksidasi atau suatu reaksi kimia dari suatu mineral didalam batubara itu sendiri.
Menurut Falcon, R.M (1986) menyebutkan spontaneous combustion pada semua batubara terjadi akibat kontak atmosfir (udara) yang secara cepat atau lambat menunjukkan tanda-tanda oksidasi dan pelapukan dengan resultan penurunan konten kalori, volatile matter, dan terjadinya swelling capacities. Reaksi eksotermis yang menghasilkan panas apabila tidak hilang akan mencapai suhu inisiasi yang pada akhirnya membentuk titik api pada hot spot batubara. Reaksi spontaneous combustion dapat digambarkan sebagai berikut :
                                       C      +   O2  (>5%)                       CO2  (150°F - 200° F)

                                       CO2 +   C                                      CO (212° F - 300° F)




Menurut Sukandarrumidi (2008), proses spontaneous combustion mengalami proses bertahap yang dijelaskan sebagai berikut :
1.             Mula-mula batubara akan menyerap oksigen dari udara secara perlahan- lahan dan  kemudian temperatur udara akan naik.
2.             Akibat temperatur naik kecepatan batubara menyerap oksigen dan udara bertambah dan temperatur kemudian akan mencapai 100oC – 140oC.
3.             Setelah mencapai temperatur 140oC, uap dan CO2 akan terbentuk sampai temperatur 230oC, isolasi CO2 akan berlanjut. Bila temperatur telah berada di atas 350oC, ini berarti batubara telah mencapai titik sulutnya dan akan cepat terbakar.
Ada beberapa teori yang mengungkapkan proses terjadinya suatu spontaneous combustion, tentu saja teori-teori ini berdasarkan pengalaman atau percobaan dari penemunya. Dari teori-teori tersebut ada empat teori utama yang menjelaskan fenomena spontaneous combustion secara lebih luas yaitu ;
1.       Teori Pyrite Besi disulfida (FeS2) berada didalam batubara dalam dua bentuk yaitu ; cubic yellow pyrite (density 5.2) dan rhombic marcasite (density sekitar 4.8)(coward, 1957). Marcasite diketahui lebih reaktif terhadap oksigen dibanding dengan pyrite. Meskipun kemudian Li dan Parr (1926) menemukan bahwa kedua bentuk pyrite tersebut memilikirate oksidasi yang relatif sama. Pyrite memberikan kontribusi pada terjadinya oksidasi batubara lebih besar dalam bentuk partikel kecil, sedangkan pada partikel yang relatif lebih besar rate oksidasinya akan lebih rendah. Nilai panas dari oksidasi pyrite ini ditentukan oleh Lamplough and Hill (1912 –13) yang menemukan nilai rata-rata 13.8 J/ml oksigen yang dikonsumsi. Meskipun terdapat beberapa perbedaan mengenai peran pyrite didalam spontaneous combustion, namun sekarang dapat diterima secara umum bahwa :
a.       Panas yang dihasilkan dari oksidasi pyrite ikut membantu pada terjadinya oksidasi batubara.
b.       Oksidasi pyrite menjadi ferrous sulphate menyebabkan disintegrasi dari batubara sehingga memperluas dareah permukaan batubara untuk terjadinya oksidasi.
Persamaan reaksi berikut menggambarkan reaksi oksidasi pyritedidalam batubara (Schmidt, 1945) ;
 Persamaan reaksi berikut menggambarkan reaksi oksidasi pyritedidalam batubara (Schmidt, 1945) ; 2 FeS2 + 7 O2 + 16 H2O 2 H2SO4 + 2 FeSO4. 7H2O
Akan tetapi Miyagawa (1930) menyatakan bahwa persamaan reaksi oksidasi pyrite tidak seperti persamaan reaksi diatas , melainkan mengikuti persamaan reaksi seperti di bawah ini 
   FeS2 + 3 O2 2 FeSO4 + SO2
Dia menyatakan bahwa Sulfur dioksida yang dihasilkan dari reaksi oksidasi tersebut kemudian diadsorpsi kuat oleh permukaan pyrite sehingga mencegah reaksi oksidasi lebih lanjut. Hilangnya gas ini dari permukaan pyritetersebut karena air, menyebabkan terjadinya reaksi oksidasi lanjutan.Untuk alasan inilah dia mengklaim bahwa batubara yang mengandung banyak pyritelebih besar kecenderungannya untuk terjadi spontaneous combustion apabila disimpan dalam keadaan basah atau lembab.
2.       Teori “coal oxygen” atau teori kompleks adalah Pembentukan sebuah “coal-oxygen” kompleks selama oksidasi batubara pada temperatur rendah dinyatakan oleh sejumlah peneliti terdahulu seperti Wheeler (1918), Davis & Byrne (1925), dan terakhir Schmidt (1945).Teori ini menyatakan bahwa adsorpsi oksigen terjadi pada temperatur rendah, tahap ini merupakan tahap awal yang merupakan adsorpsi secara fisik. Tahap ini berlanjut dengan pembentukan komplek oksigen yang mengandung bentuk oksigen yang aktif yang disebut “per-oksigen”. Tahap ini disebut tahap Chemisorption. Kemudian proses ini dilanjutkan pada tahap reaksi per-oksigen tersebut dengan batubara dimana CO, CO2 dan H2O dihasilkan oleh dekomposisi dari per-oksigen tersebut. Secara singkat tahapan dari teori ini dapat disederhanakan menjadi ;
a.       Adsorpsi oksigen secara fisik
b.      Tahap Chemisorption; pembentukan sebuah komplek yang mengandung oksigen aktif yang disebut ”per-oksigen”
c.       Reaksi kimia cepat dimana CO, CO2 dan H2O dihasilkan oleh dekomposisi dari per-       oksigen tersebut.
3.       Teori Humidity adalah Batubara akan bereaksi dengan oksigen diudara segera setelah batubara tersebut terekspose selama penambangan. Kecepatan reaksi ini lebih besar terutama pada batubara golongan rendah seperti lignit dan sub-bituminus. Sedangkan pada golongan batubara bituminus keatas atau high rank coal, oksidasi ini baru akan tampak apabila batubara tersebut sudah diekspose dalam jangka waktu yang sangat lama. Apabila temperatur batubara terus meningkat yang disebabkan oleh self heating, maka ini perlu ditangani dengan serius karena ini akan berpengaruh terhadap nilai nilai komersial dari batubara tersebut, selain itu ini akan mengakibatkan pembakaran spontan batubara yang sangat tidak kita inginkan karena akan merugikan dan juga mengakibatkan kerusakan lingkungan. Akan tetapi untunglah pada temperatur normal kecepatan oksidasi ini kecil sekali, bahkan cenderung menurun selang dengan waktu. Dengan demikian resiko penurunan kualitas karena oksidasi ini masih bisa diterima dalam perioda waktu pengiriman yang normal ( 8 jam – 8 minggu ). Oksidasi yang dimaksud diatas adalah oksidasi yang tidak diikuti dengan pembakaran spontan atau oksidasi pada temperatur rendah. Akan tetapi apabila disimpan dalam jangka waktu lama di stockpile penurunan kualitas akibat ini biasanya tidak dapat diterima karena selain penurunan kualitas secara kimia juga akan terjadi penurunan kualitas secara fisik terutama terjadi pada batubara golongan rendah atau low rank coal .
4.       Teori Bakteri adalah karena aktifitas bakteri dianggap dapat menyebabkan terjadinya spontaneous combustion, banyak peneliti melakukan penelitian peran bakteri ini dalam pembakaran spontan batubara.
a.    Coward (1957) mereview 6 referensi penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang berbeda antara 1908 and 1927. Empat dari penelitian tersebut jelas terbukti bahwa bakteri mampu hidup dalam batubara dan dalam beberapa kasus bakteri dapat menaikan temperature batubara
b.    Akan tetapi, Graham (1914 -15) menemukan bahwa batubara yang disterilkan dan batubara yang tidak disterilkan memiliki rate oksidasi yang sama, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mekanisme oksidasi batubara tidak melibatkan aktifitas bakteri. Kesimpulan yang sama dinyatakan oleh Winmill (1914-15), dan Scott (1944) bahwa self heatingyang terjadi pada batubara bukan karena keberadaan bakteri dalam batubara tersebut.
Pengalaman atau fakta dilapangan menunjukan bahwa pembakaran spontan  batubara terjadi apabila mengikuti kriteria berikut ini:
a.       Batubara telah lama disimpan atau di stockpile terbuka terlalu lama baik crushed coal maupun raw coal tanpa pemadatan
b.      Dimensi ukuran, sudut kemiringan,  maupun bentuk stockpileyang tidak memenuhi standar
c.       Kecepatan angin yang menerpa stockpile
d.      Banyaknya mineral pengotor yang ikut tertumpuk padastockpile
e.       Ketidakseragaman ukuran butir batubara
f.       Sistem saluran air (drainase) pada stockpile yang tidak sesuai kriteria.
g.      Pengabaian terjadinya pemisahaan ukuran partikel batubara(coarse dan fine coal).
5.        reaksi oksidasi berlangsung terus-menerus, maka panas yang dihasilkan juga akan meningkat, sehingga dalam timbunan batubara juga akan mengalami peningkatan. Peningkatan suhu ini juga disebabkan oleh sirkulasi udara dan panas dalam timbunan tidak lancar, sehingga suhu dalam timbunan akan terakumulasi dan naik sampai mencapai suhu titik pembakaran (self heating), yang akhirnya dapat menyebabkan terjadinya proses swabakar pada timbunan tersebut.
Sebelum mengalami swabakar batubara akan mengalami proses oksidasi yang merupakan proses inisiasi dari swabakar apabila proses oksidasi ini diikuti dengan meningkatnya temperatur terus menerus yang akhirnya mengakibatkan terjadinya pembakaran spontan. Batubara akan bereaksi dengan oksigen di udara segera setelah batubara tersebut tersingkap selamapenambangan. Kecepatan reaksi ini lebih besar terutama pada batubara golongan rendah seperti lignite dan sub-bituminus, sedangkan pada golongan batubara bituminus keatas atau, oksidasi ini baru akan tampak apabila batubara tersebut sudah tersingkap dalam jangka waktu yang cukup lama. Apabila temperatur batubara terus meningkat yang disebabkan oleh self heating, maka ini perlu ditangani dengan serius karena ini akan berpengaruh terhadap nilai komersial batubara tersebut, selain itu akan mengakibatkan pembakaran spontan batubara yang sangat tidak diinginkan karena akan merugikan.
Pada temperatur normal kecepatan oksidasi ini kecil sekali, bahkan cenderung menurun selang dengan waktu, dengan demikian resiko penurunan kualitas karena oksidasi ini masih bisa diterima dalam periode waktu pengiriman (8 jam – 8 minggu). Oksidasi yang dimaksud diatas adalah oksidasi yang tidak diikiuti dengan pembakaran spontan atau oksidasi pada temperatur rendah, akan tetapi apabila disimpan dalam jangka waktu lama di stockpile penurunan kualitas akibat ini biasanya tidak dapat diterima. Karena selain penurunan kualitas secara kimia juga terjadi penurunan kualitas secara fisik terutama terjadi pada batubara golongan rendah atau low rank coal.
Seperti telah dijelaskan diatas bahwa penyebab awal terjadinya pembakaran spontan adalah reaksi oksidasi yang terjadi dengan sendirinya dalam batubara, yang mengakibatkan pemanasan dengan sendirinya yang selanjutnya akan mengakibatkan pembakaran spontan apabila tidak terkontrol. Pembakaran spontan adalah merupakan fenomena alami dan juga disebut pembakaran sendiri (self combustion). Hal ini disebabkan terjadinya reaksi zat organik dengan oksigen dari udara. Kecepatan reaksi oksidasi sangat bervariasi antara suatu zat dengan yang lainnya. Batubara akan mengalami pemanasan dengan sendirinya kapan pun dan dimana pun apabila batubara tersebut disimpan dalam bentuk bulk (tumpukan dalam jumlah besar) di stockpile. Self heating disebabkan oleh oksidasi pada permukaan batubara yang kontak dengan oksigen di udara. Sebenarnya panas yang dihasilkan dapat terhilangkan dengan distribusi panas keseluruh batubara atau ke udara dengan penguapan moisture batubara tersebut.
Pembakaran akan terjadi apabila :
1.             Adanya bahan bakar (fuel)
2.             Adanya oksidan (udara / oksigen)
3.             Adanya panas (heat)

Ada beberapa tindakan pencegahan dan penanggulangan  yang  bisa dilakukan, yaitu :
1.             Tindakan Preventive adalah tindakan pencegahan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya self combustion/terbakar dengan sendirinya. Tindakan tersebut adalah : 
a.         Batubara tersebut kami bentuk seperti kerucut, Hal tersebut dilakukan untuk meminimalkan terjadinya longsor. Karena apabila kami bentuk setengah kerucut yang berarti ada bagian yang rata diatas tumpukan batubara maka apabila terjadi hujan dapat membuat genangan air dan akhirnya batubara akan terkikis dan menjadi longsor karena aliran air hujan.
b.        Bagian tepi kami padatkan menggunakan bucket excavator, Pemadatan tersebut bertujuan untuk mengurangi ruang kosong yang timbul dalam tumpukan batubara karena celah antar batubara. Dengan memadatkan berarti batubara akan memiliki lebih sedikit ruang kosong yang berisi udara/oksigen/O2 dimana terjadinya kebakaran salah satu faktornya adalah Oksigen (O2). Apabila tidak memiliki ruang kosong maka hawa panas yang keluar dari batubara akan relative stabil  dan tertahan didalam dengan tidak menimbulkan kebakaran.
c.         Menggunakan cairan kimia, Cairan yang kami maksud adalah produk untuk coal treatment yang memiliki fungsi berbeda – beda :
1)        Outodust/Vinasol adalah Produk ini dapat mencegah self combustion selama ± 21 hari
2)        Focustcoat adalah Produk ini dapat mencegah self combustion selama ± 60 hari
3)        Hydrosol adalah Produk ini dapat mencegah self combustion selama ± 75 hari
4)        Suppressol adalah Produk ini adalah untuk dust control atau mencegah debu/ash  yang muncul     dari batubara
Pada perusahaan kami, cairan kimia yang kami gunakan adalah Hydrosol. Cairan tersebut kami campurkan dengan air dengan perbandingan 1:40 dimana 1 (satu) liter Hydrosol kami campurkan dengan  40 (empat puluh) liter air. Luasan penggunaan Hydrosol adalah 1:10, dimana 1 (satu) liter Hydrosol untuk 10 (sepuluh) ton batubara. Kemudian campuran tersebut kami tempatkan dalam drum dan kami semprotkan ke batubara dengan menggunakan alkon dengan ujung pipa output (setelah disambung dengan slang/hose karet) kami persempit sehingga akan menghasilkan output seperti hujan. Proses penyemprotan itu kami lakukan ke seluruh permukaan batubara sebanyak 2 lapis/layer dan kami lakukan setiap 3 (tiga) bulan sekali.
d.        Pemeriksaan temperature rutin, Pemeriksaan tersebut kami lakukan untuk mengukur suhu panas permukaan batubara. Apabila kita menemukan titi permukaan yang terasa panas maka kami akan buatkan lobang dengan menggunakan pipa besi sedalam ± 1 meter untuk mengeluarkan hawa panas batubara. Lobang tersebut kami biarkan selama ± 1 jam dan akan kami tutup dan padatkan kembali. Proses pembuatan lobang ini kami lakukan pada sore hari disaat matahari sudah tidak menyengat atau pada malam hari apabila samapi pada sore hari matahari masih bersinar.
e.         Volcano Trap, Istilah ini kami pakai untuk membuang asap yang muncul dari dalam tumpukan batubara. Tidak semua asap yang keluar dari tumpukan batubara adalah karena telah terjadi self combustion tetapi lebih karena suhu di dalam tumpukan batubara yang panas tetapi lapisan luar tumpukan batubara dingin karena terjadinya hujan, atau karena embun. Asap yang keluar dapat kita cium dari banunya untuk mengindikasi apakah terjadi karena terbakar ataukan karena hawa panas. Apabila asap yang keluar berbau belerang dan menyengat serta berwarna putih pekat maka berarti telah terjadi batubara yang terbakar, tetapi apabila asap yang muncul tidak berbau menyengat dan berwarna putih transparan maka hanya terjadi karena hawa panas. Apabila asap karena hawa panas maka yang kami lakukan hampir sama dengan point 4. Hanya saja kami buatkan lubang di sumber asap keluar sedalam sekitar 50 cm untuk mengeluarkan hawa panas tersebut dan kami biarkan selama sekitar 1 jam kemudaian kami tutup dan padatkan kembali. Apabila asap karena terjadi kebakaran, pada point B akan kita bahas lebih detail.
f.         Pembuatan Parit, Dilakukan pada sekitar tumpukan batubara dengan kedalaman ± 1 meter dan kita alirkan pada saluran pembuangan yang menuju settling pond. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi jumlah air yang terdapat dalam tumpukan batubara yang terjadi karena hujan akan mengalir ke parit dari batubara ataupun melewat celah-celah tanah. Hal tersebut juga dimaksudkan untuk mengurangi kadar TM (Total Moisture).
2.      Tindakan Burnout adalah tindakah yang diambil untuk memadamkan batubara yang sudah terbakar karena self combustion. Batubara yang terbakar memiliki beberapa ciri, yaitu :
o   Asap berwarna putih pekat, berbau belerang dan menyengat. Hal ini terjadi apabila batubara yang terbakar belum menycapai permukaan dan masih terjadi di dalam tumpukan batubara
o   Permukaan berwarna kuning emas, berasap dan panas tentunya. Ini terjadi apabila kebakaran sudah mencapai permukaan yang berarti kebakaran sudah luas dan dalam.
Untuk tindakan pemadaman dapat dilakukan dalam beberapa tahap agar tidak meluas, yaitu:
a.         Pembuatan lobang, hal ini dilakukan apabila kebakaran masih berupa asap sehingga kita akan membuat lobang untuk mencari sumber api. Perlu diingat bahwa dalam pembuatan lobang apabila ditemukan batubara yang berwarna kuning atau sudah menjadi debu berwarna emas atau kuning tua maka itu harus dibuang jauh dari tumpukan batubara karena dapat mengkontaminasi batubara lainnya menjadi ikut terbakar.
b.        Pembuangan debu, hal ini dilakukan apabila kebakaran sudah terjadi sampai ke permukaan. Pembuangan debu dari sisa batubara yang terbakar harus dilakukan pelan-pelan agar tidak terbang dibawa angin dan akan mengkontaminasi batubara lainnya sehingga akan memunculkan potensi terbakar. Pembuang debu sampai dengan ditemukannya batubara yang sudah menjadi bara api
c.         Pengambilan bara api, setiap terjadinya kebaran pasti ada sumbernya yang berupa bara api. Langkan awal adalah kita memadamkan adalah dengan mengambil dan membuang sumber kebakaran yaitu batubara yang sudah berubah menjadi bara api tersebut kita buang dengan menggunakan skop.
d.        Penggunaan Detergent penggunaan detergent ini boleh apa saja yang penting dia berupa serbuk dan berbusa. Detergent tersebut disebarkan dalam lubang yang sudah kita buat kemudian kita semprot dengan air agar berbusa. Busa inilah yang akan mendinginkan hawa panas (hampir sama fungsinya dengan foam pada APAR).




Referensi
Sukandarrumidi.(2008). Batubara dan Gambut. Universitas Gajah Mada: Yogyakarta
Mulyana Hana, 2005, “Kualitas Batubara dan Stockpile Management”, PT Geoservices, LTD, Yogyakarta.




Label:

Senin, 28 Maret 2016

Aku dan KAMMI (Kenikmatan Kecebur)



“KENIKMATAN KECEBUR”

KAMMI... apa itu KAMMI? Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia jawab seseorang ketika aku menanyakan hal itu. KAMMI merupakan organisasi yang bersifat terbuka dan independen yang berasaskan Islam. KAMMI merupakan wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang islami. Itu adalah jawaban yang ku tangkap dari pertanyaanku barusan. Oh iya, sebelumnya kenalkan aku, ehh biar lebih enak pake gue aja lah, oke bro/sist . Kenalin gue Dani Hidayat, biasa dipanggil Dani, gue sekarang masih berjibaku dengan namanya dunia mahasiswa. Gue berasal dari sebuah desa di kabupaten di Jawa Tengah, dan merantau ke pulau seberang untuk kuliah di Universitas Lambung Mangkurat. Pertama kali gue menginjakkan kaki di tanah Borneo, gue dijemput oleh kakak kelas waktu SMA dulu dan gue ngikut dia ke Banjarmasin untuk numpang tinggal di sebuah asrama mahasiswa. Awalnya gue biasa aja tinggal di asrama itu, karena dari dulu sudah biasa tinggal jauh dari orang tua. Sampai suatu ketika, gue sadar bahwa asrama yang gue tinggali dengan kakak kelas gue itu ternyata asrama binaan bagi anggota KAMMI yang baru. Gue sadar ketika di asrama itu ada sebuah rapat dimana cowo dan cewe duduk berpisah, kalo cuma berpisah sih masih wajar-wajar aja lah, tapi yang bikin anehnya itu ada pembatas berupa kain yang ngga tembus pandang yaa semacam kain horden gitu lah. Gue jadi mikir, ngapain kita rapat kalo ditutupin, kan ngga bisa lihat muka orang yang di sebelah kain itu, jadi ngga seru kan. Soalnya dulu walaupun di SMA pernah ikut organisasi, tapi ngga pernah rapat sampai di tutupin sama pembatas. Pada saat itu gue langsung tanya ke kakak kelas gue, mau ngapain sih kita? Kok sampe ditutup-tutupin segala, kan ngga enak kalo ngga bisa lihat yang disebelah kain sana, mana yang disini cowo semua lagi.... akhirnya dari situ gue dapet penjelasan bro/sist, bahwa KAMMI itu organisasi yang menerapkan asas Islam dan seterusnya, kayak di awal tadi. Salah satu penerapannya ya tadi, ketika rapat ada hijab atau penghalang antara laki-laki dan perempuan untuk menjaga pandangan supaya tidak saling menimbulkan syahwat. Gitu bro/sist alasan kenapa di KAMMI interaksi antara cowo dan cewenya ada batasannya.
Oke lanjut cerita... akhirnya setelah masa perkuliahan dimulai dan gue resmi jadi mahasiswa, gue dibawa ke Banjarbaru karena gue kuliah di MIPA dan fakultasnya ada di Banjarbaru. Gue diantar ke sebuah rumah kontrakan yang dijadikan kos-kosan bagi mahasiswa, nama rumahnya “Griya Mahasiswa”, waah dari namanya gue nebak ini pasti isinya orang jawa, karena dari nama rumahnya aja pake bahasa jawa. Ternyata eh ternyata, yang tinggal dirumah itu kebanyakan bukan orang jawa, paling-paling jawa turunan lah. Agak nyesel sih sebenernya gue, tapi berhubung disitu murah, ya sudahlah. Setelah bincang-bincang sama penghuni rumah yang lain, ternyata ada satu orang dari jawa, dia mahasiswa baru juga, lumayan lah dapat teman satu angkatan walaupun beda fakultas, inisialnya Yogik. Hari demi hari terlewati setelah gue tinggal di rumah itu, dan ternyata rumah yang gue tinggali itu adalah Sekretariat KAMMI Banjarbaru. Dalam pikiran gue, kenapa harus berurusan dengan yang namanya KAMMI lagi sih, padahal gue ngga tertarik sama sekali sama organisasi itu. Tapi karena bubur sudah ngga bisa jadi nasi lagi, ya sudahlah... karena gue sudah tinggal di rumah itu dan memang letak rumahnya yang deket dengan fakultas gue, akhirnya dengan berbagai pertimbangan gue tetep tinggal di rumah itu. Selang berjalannya waktu, karena gue orang baru dirumah itu, dan kebetulan rumah itu sekretariat KAMMI Banjarbaru, akhirnya gue sering diajakin kegiatan-kegiatan KAMMI walaupun agak terpaksa siih... ( :D ).
Di KAMMI gue diajarkan gimana caranya berpolitik bro/sist, politik itu sebenernya bersih, tapi dia jadi kotor karena orang yang menjalankannya, kalo ngga percaya tanya aja ke politiknya... kalo urusan dengan politik, biasanya KAMMI ngadain aksi/demo kalo misalnya ada kebijakan dari pemerintah yang ngga sesuai dengan masyarakat, ataupun kalo ada isu-isu yang meresahkan masyarakat atau yang lainnya. Karena mahasiswa itu harus bisa menyuarakan aspirasi dari rakyat-rakyat kecil. Menurut gue, kalo bro/sist jadi mahasiswa dan ngga pernah ikut turun aksi/demo, itu namanya belum jadi mahasiswa beneran, sama aja kayak anak SMA, yang kerjaannya pagi berangkat ke sekolah, ndengerin ceramah guru, terus pulang, makan, main/tidur, malamnya belajar, tidur, terus paginya balik lagi ke siklus awal tadi. Karena ngga bisa dipungkiri bro/sist, kita sekarang hidup dijaman perpolitikan, kalo kita ngga tau politik sama sekali, yaaah Hati-hati dijalan aja lah. Mau ngga mau kita mesti tau apa itu politik, politik bermain diranah mana saja sekarang ini, paling ngga kita sedikit tau lah.
Selain membahas politik, KAMMI juga banyak ngadain acara sosial bro/sist, kayak galang dana, bagi-bagi bunga atau lainnya, ada juga aksi mengumpulkan pakaian bekas yang masih layak pakai buat disumbangin ke para korban bencana, ada bersih-bersih masjid juga, dan ada posko donor darah, pokoknya rame deeh. Yang paling berkesan buat gue sih kalo ada acara galang dana, rame bro/sist... selain rame, kita juga bisa dapet pahala, tapi itu balik lagi ke niatnya siih... ( :D ). Setelah lama di KAMMI, gue baru ngrasain manfaatnya sekarang-sekarang ini bro/sist, walaupun dulu ikut KAMMI karena terpaksa. Gue dapet banyak ilmu tentang perpolitikan, tentang cara berdakwah, dakwah itu bukan cuma kita ceramah di masjid bro/sist, dakwah itu luas cakupannya. Ilmu yang ngga kalah penting yaitu kepemimpinan bro/sist, di KAMMI kalian bisa dapetin ilmu giamana caranya menjadi pemimpin yang adil, bijaksana, baik dan lain-lain. Intinya seperti yang dicontohkan oleh Rasul. Jujur, gue yang dulunya terpaksa gabung di KAMMI, sekarang gue bangga bisa gabung dengan KAMMI, bisa berkontribusi bagi KAMMI, yaah pokoknya ada KAMMI lah... ohh iya, tentunya itu setelah gue ngikutin acara recruitmen KAMMI yang namanya Pra Daurah Marhalah (Pra DM) sama Daurah Marhalah I (DM I). So, bro/sist yang mau ikut ngrasain gimana sensasinya  gabung dengan KAMMI, jangan lupa datang di acara Recruitmen KAMMI yaah... gue tunggu sebelum gue lulus...!!!! :D



PERINGATAN...!!!
Cerita diatas bukan fiktif belaka. Cerita diatas dibuat demi memenuhi tugas dan kewajiban yang diberikan kepada kader KAMMI Idaman dari Kebijakan Publik. Apabila terdapat kesamaan tokoh, tempat, dan lain-lain mohon dimaklumi, serta apabila terdapat salah-salah kata atau penulisan, mohon dimaafkan yang seikhlas-ikhlasnya. Sekian Matur Suwun.
Wassalam
Dari Saudara saya, Dani Hidayat (Bendahara Umum KAMMI Idaman)







Label: