Penambangan Intan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Salah satu dasar dari
ilmu pertambangan adalah ilmu geologi, dimana dalam geologi kita pelajari
tentang kristalografi dan mineralogi (KrisMin). Dalam krismin, akan kita
pelajari tentang kristal dan mineral, yang merupakan unsur penyusun kerak bumi.
Itulah sebabnya sebagai calon ahli pertambangan maka ilmu ini wajib dipahami
sebagai dasar.
Pengenalan geologi
khususnya krismin yang cenderung abstrak seringkali menyulitkan praktikan dalam
memahasi konsep keilmuannya. Selain itu, peralatan dan ketersediaan alat yang
menunjang kegiatan praktikum dirasa masih kurang semakin menyulitkan praktikan
untuk memahami. Oleh sebab itu maka tim asisten berinisiatif untuk lebih
mengenalkan tentang krismin tersebut kepada praktikan dengan mengajak langsung
ke lapangan. Dengan dilaksanakannya kunjungan lapangan ini diharapkan nantinya
para praktikan dapat lebih memahami konsep dasar keilmuan dan dapat
mengaplikasikan ilmu yang didapat di ruangan ke lapangan secara langsung.
Di kota Banjarbaru dan
sekitar Kabupaten Banjar sendiri banyak lokasi yang dirasa dapat memberikan
pengalaman tersebut kepada praktikan. Dimana praktikan dapat langsung
mengaplikasikan ilmu yang didapat. Tim asisten akan mengajak praktikan menuju
lokasi pendulangan intan tradisional di Desa Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka
dan Lembaga Pengembangan dan Sertifikasi Batumulia (LPSB) Martapura.
Praktek lapangan adalah penerapan seorang
mahasiswa/i pada dunia kerja nyata yang sesungguhnya, yang bertujuan untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sudah didapatkan dalam
praktikum.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari
kegiatan ini yaitu agar:
a. Praktikan
memahami tentang pengertian kristal dan mineral
b. Praktikan
memahami menggunakan GPS dan peta geologi serta interpretrasinya
c. Praktikan
mengerti bagaimana menentukan klasifikasi sistem Kristal
d. Praktikan
mengerti bagaimana asosiasi mineral dengan batuan
e. Praktikan
mengerti bagaimana proses pembentukan mineral di alam
f. Praktikan
mampu mendeskripsikan sifat fisik mineral secara megaskopis dan memahami secara
mikroskopis
g.
Praktikan memahami tentang proses pengolahan mineral
batumulia
BAB
II
DASAR
TEORI
2.1. Dasar Teori
Intan
atau berlian adalah mineral yang secara kimia merupakan bentuk Kristal atau
alotrop dari karbon. Intan terkenal karena memiliki sifat-sifat fisika yang
istimewa, terutama factor kekerasannya dan kemampuannya mendispersikan
cahaya. Proses penambangan intan dilakukan dengan cara tradisional dengan
menggunakan dulang juga dengan cara modern dengan menggunakan mesin penyedot.
2.1.1. Pengertian
Intan
Intan atau berlian adalah mineral yang secara kimia
merupakan bentuk Kristal atau alotrop dari karbon. Intan terkenal karena
memiliki sifat-sifat fisika yang istimewa, terutama factor kekerasannya dan
kemampuannya mendispersikan cahaya. Sifat-sifat ini yang membuat intan
digunakan dalam perhiasan dan berbagai penerapan di dalam dunia industry.
Intan terutama ditambang di Afrika Tengah dan Selatan,
walaupun kandungan intan yang signifikan juga telah ditemukan di Kanada, Rusia,
Brasil, dan Australia. Sekitar 130 juta “karat” (26.000 kg) intan ditambang
setiap tahun, yang berjumlah kira-kira $9 miliar dolar Amerika. Selain itu,
hamper empat kali berat intan dibuat di dalam makmal sebagai intan sintetik (synthetic
diamond).
Seperti yang kita ketahui harga intan dipasaran sangat
mahal karena dalam proses pencarian sangat sulit dan barang tersebut bisa
dibilang barang yang langka. Tidak seperti barang tambang yang lain misalnya
emas yang bisa dibilang masih mudah ditemukan bila dibandingkan dengan intan.
Juga tidak semua daerah di Indonesia dapat ditemukan sebagai tempat
pertambangan intan yang sudah cukup dikenal oleh masyarakat adalah Kalimantan
Selatan. Proses pencarian dilakukan baik yang secara tradisional ataupun cara
modern dengan menggunakan mesin-mesin yang canggih.
2.1. 2. Kondisi umum penambangan
intan Kecamatan Cempaka
Kecamatan Cempaka adalah kawasan
penambangan intan dan emas yang terletak 47 km dari Kota Banjarmasin dan 7 km
dari Kota Banjarbaru. Di tempat ini pengunjung dapat melihat langsung bagaimana
para pekerja mencari Intan atau Emas di lobang-lobang penuh galian dan penuh
lumpur.
Kecamatan Cempaka kota Banjarbaru, didominasi oleh
karakteristik geografis dataran tinggi dengan rata-rata ketinggian topografi
antara 50 sampai 150 meter di atas permukaan laut (Pusat Statistik Provinsi
Kalimatan Selatan: 1993 ). Sehingga praktis, kawasan pendulangan intan, di
Pumpung atau Ujung Murung misalnya, juga dikelilingi oleh bukit-bukit yang
menyembul.
Kawasan pendulangan intan tradisional di Kecamatan
Cempaka, paling banyak tersebar di Kelurahan Sungai Tiung. Kelurahan seluas
21,50 Km2 dengan jumlah kepadatan 306 jiwa per Km2, ini memiliki dua
kawasan pendulangan intan tradisional yang telah dikenal di mata dunia, yaitu
Desa Pumpung. Desa Pumpung, terkenal karena temuan intan sebesar telur ayam
dengan berat 166,7 kerat, pada 30-an tahun silam. Belakangan intan tersebut
dinamai Trisakti.
Di Kecamatan ini, area tanahnya merupakan tanah
pendulangan. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai
pendulangan intan (M. Syafruddin Saleh, 1983). Untuk menuju kawasan
wisata pendulangan intan tradisional ini, banyak akses transportasi darat yang
bisa kita pilih, tentunya relatif cepat, mudah dan murah. Pendulangan intan
Pumpung misalnya, berada di sisi tenggara kota Banjarbaru, 40 Km dari
Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalsel. Dari Banjarmasin menuju Kota Banjarbaru
dapat dituju menggunakan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun empat, dengan
waktu tempuh selama 1 jam. Kemudian, dari kota Banjarbaru menuju Kecamatan
Cempaka bisa dicapai selama 15 menit, langsung menuju kawasan tersebut.
2.1.3. Explorasi Intan
Tahap pertama dalam eksplorasi berlian adalah
identifikasi dari suatu daerah atau wilayah yang memiliki potensi untuk menjadi
tuan rumah deposito berlian . Kadang-kadang proses ini disederhanakan dengan
penemuan berlian sebelumnya , misalnya, craton Slave di Wilayah barat laut
Kanada dan Nunavut Dalam situasi lain , di mana penemuan bantalan diamond atau
deposito ekonomi belum diwujudkan , berbagai disiplin ilmu geologi termasuk
geofisika , mineralogi , morfologi dan studi struktural digunakan untuk
mengarahkan fokus upaya eksplorasi .
Setelah suatu daerah dianggap prospektif telah
dipilih, wilayah sasaran tertentu harus didefinisikan . Hal ini umumnya dicapai
melalui pengambilan sampel mineral indikator , teknik eksplorasi digunakan di
seluruh dunia oleh perusahaan-perusahaan mencari berlian . Hasil dari program
pengambilan sampel skala regional dapat digunakan untuk mengidentifikasi area
untuk akuisisi klaim mineral .
Para ahli geologi merujuk ke daerah-daerah yang
mengembalikan konsentrasi terpenting mineral indikator sebagai " anomali
" . Daerah ini kemudian diteliti lebih lanjut dengan menggunakan lebih
rinci mineral indikator grid pengambilan sampel serta teknik geofisika . Survei
geofisika memungkinkan penjelajah untuk menyimpulkan formasi geologi dan
struktur yang terletak di bawah lapisan penutup permukaan dan danau . Survei
geofisika udara umumnya digunakan untuk menutupi area yang luas sangat cepat .
Tanah berbasis survei geofisika digunakan untuk memperbaiki setiap target
diidentifikasi dari survei udara dan untuk menyelidiki lebih lanjut target
potensial diidentifikasi melalui pengambilan sampel mineral indikator ,
prospeksi atau pemetaan geologi .
Setelah koleksi , sampel mineral
indikator adalah pra - disaring untuk menghilangkan kerikil , jalanan batu dan
bahan-bahan non - kimberlitic besar lainnya dan kemudian dikirim ke
laboratorium untuk diproses lebih lanjut . Laboratorium Stornoway ini
menggunakan kombinasi fleksibel metode untuk memproses glasial sampai dan
fluvial sampel untuk menentukan kelimpahan dan sifat mineral indikator
kimberlitic bahwa mereka mengandung .
Pengolahan awal dimulai dengan konsentrasi utama
melalui penggunaan tabel Wifley . Perangkat ini mengambil keuntungan dari berat
jenis tinggi yang mencirikan indikator mineral dan memungkinkan mereka untuk
dipisahkan dari bahan sampel lainnya melalui penggunaan film tipis air yang
mengalir ditambah dengan agitasi . Selain itu, teknik pengolahan mineral
indikator memanfaatkan berbagai metode lain .
2.1.4. Exploitasi Intan
Seperti yang kita ketahui harga intan dipasaran sangat
mahal karena dalam proses pencarian sangat sulit dan barang tersebut bisa
dibilang barang yang langka. Tidak seperti barang tambang yang lain misalnya
emas yang bisa dibilang masih mudah ditemukan bila dibandingkan dengan intan.
Intan terutama ditambang dari pipa-pipa vulkanis, tempat
kandungan intan yang berasal dari bahan-bahan yang dikeluarkan dari dalam Bumi
karena tekanan dan temperaturnya sesuai untuk pembentukan intan. Intan terdapat
dari dalam perut bumi yang digali baik secara manual maupun dengan mekanisasi.
Sekarang kebanyakan para penambang intan sudah menggunakan mekanisasi, yaitu
dengan mesin penyedot untuk menyedot tanah yang sudah digali.
Tanah yang disedot bersama air dipilah melalui tapisan.
Dengan keterampilannya, si penambang bisa membedakan batu biasa, pasir, atau
intan. Intan yang baru didapat ini disebut “galuh”. Galuh ini masih merupakan
intan mentah. Untuk menjadikannya siap pakai, intan harus digosok terlebih
dahulu. Penggosokan intan yang ada di masyarakat sebagian besar masih dengan
alat tradisional.
Mendapatkan/mencari intan secara tradisional merupakan
pekerjaan yang banyak digeluti oleh masyarakat banjar. Salah satu alat untuk
mencari intan cara tradisional dikenal dengan nama dulang dalam bahasa daerah
sana. Dulang (berbentuk semacam caping) yang terbuat dari kayu ulin (kayu besi)
atau kayu jingga. Sedangkan proses untuk mendapatkan intan sendiri dinamakan
dengan mendulang. Caranya: material berupa pasir, batu-batuan kecil, tanah,
lumpur dan sebagainya yang telah bercampur menjadi satu diambil dari dalam
lubang galian yang dibuat dengan kedalaman tertentu dimuat ke dalam dulang
sesuai dengan kapasitas dari setiap dulang yang digunakan, selanjutnya dulang
yang telah terisi material tersebut diputar-putar (dilenggang) dalam air
sehingga sedikit demi sedikit material dari dalam dulang terbuang keluar dari
dulang terbawa oleh pusaran air yang timbul akibat putaran yang dilakukan
sambil sekali-kali pendulang mengamati sisa material yang berada dalam dulang
apakah terdapat intan atau tidak. Hal tersebut dilakukan begitu seterusnya
sampai material yang berada dalam dulang terbuang habis dari dalam dulang.
Kegiatan tersebut dilakukan sepanjang harinya oleh penambang tradisional intan,
dan belum tentu kegiatan yang dilakukan mendapatkan hasil yang bisa dibawa
pulang sebagai pendapatan hari itu. Mencari barang yang belum tentu dapat itu
sangat membutuhkan kesabaran dan keuletan yang tinggi dari para pendulang.
Kegiatan mendulang biasanya dilakukan secara berkelompok. Satu kelompok
biasanya terdiri dari 3-5 orang ataupun lebih. Kenapa hal tersebut dilakukan
secara berkelompok Karena setiap orang
mempunyai tugas masing-masing yang berbeda-beda. Ada yang bertugas
membuat/menggali lubang. Ada yang lain bertugas mengangkut material galian
kelokasi pendulangan. Sedangkan yang lainnya lagi bertugas mendulang material
yang telah terangkut tadi. Biasanya di tempat pendulangan dipasang semacam
tenda untuk menghindari panasnya terik matahari.
Dalam system mencari intan secara berkelompok ini
biasanya hasil yang didapat dibagi secara merata kepada setiap orangnya dalam
kelompok tersebut. Hal tersebut juga tidak mutlak begitu aturannya namun
kebanyakkan begitu yang dilakukan, atau juga tergantung dari kesepakatan
awalnya bagaimana? Perlu diketahui juga bahwa para penambang tradisional
tersebut lahan yang digunakan juga kadang-kadang tidak milik sendiri tetapi
milik orang lain. Jadi hasil yang didapat semakin kecil apabila semakin banyak
orang terlibat dalam sebuah kelompok penambang intan. Banyak orang yang
terlibat dalam usaha mendapatkan intan apabila kita melihat dari proses
awalnya. Bermula sebuah intan berasal dari para penambang tersebut. Ada juga
kelompok yang khusus mengumpulkan hasil dari penambang tersebut yang datang
secara langsung ke lokasi penambangan. Kelompok tersebut dinamakan para
pengumpul intan dan biasanya orang-orang yang sudah memiliki modal sendiri atau
memakai modal orang lain dalam mengumpulkan intan. Selanjutnya dari para
pengumpul ini dijual lagi kepengumpul yang besar untuk diolah menjadi
intan-intan yang bernilai jual tinggi. Atau juga intan tersebut langsung di
jual kepada para pengumpul yang berasal dari luar sebelum diolah menjadi
berbagai macam bentuk yang menarik seperti mata cincin, kalung, gelang, dan
lain sebagainya. Namun tetap saja yang menjadi bagian yang paling bawah adalah para
pekerja yang secara langsung bekerja dilapangan. Daerah yang cukup terkenal
sebagai tempat penghasil intan di Banjarmasin seperti Martapura, Kampung
Cempaka, Karang Intan, Awang Bangkal, Sungai Besar, Matraman. Daerah-daerah
tersebut yang menjadi salah satu tempat yang banyak menghasilkan intan.
Demikian sulit proses mendapatkan sebuah intan, namun mengingat harga yang
tinggi dibandingkan dengan harga barang tambang yang lain yang ditawarkan tetap
saja hal tersebut menjadi pekerjaan yang banyak diminati oleh masyarakat. Intan
ditentukan berdasarkan karatnya. Semakin besar karat semakin tinggi juga harga
yang didapat. Mencari barang yang langka dan belum tentu kapan dapatnya
tergantung dari rejeki dari masing-masing pendulangnya. Menambang intan secara
tradisional menggunakan dulang Penambangan intan modern menggunakan mesin
penyedot
2.1.5. Dampak Eksploitasi Penambangan Intan
Kegiatan penambangan intan dapat mempengaruhi sifat fisika,
kimia, serta biologi tanah maupun air, melalui pengupasan tanah lapisan atas
penambangan, pencucian, serta pembuangan tailing. Dengan demikian sifat tanah
asli atau semula berubah menjadi sifat tanah tailing.
Sistem penambangan intan di Kecamatan Cempaka Banjarbaru
adalah menggunakan sistem “dumping”, yaitu suatu cara penambangan dengan
mengupas tanah permukaan yang kemudian dilanjutkan dengan penggalian, namun
setelah selesai penambangan, lapisan tanah atas (top soil) tidak dikembalikan
ke tempat asalnya. Secara fisik, keadaan lokasi bekas tambang sangat buruk,
berupa lubang-lubang besar mirip seperti danau dan dikelilingi
tumpukan-tumpukan tanah bekas galian, seperti bukit-bukit kecil yang tidak
beraturan. Dengan kondisi demikian, apabila areal bekas tambang tersebut
dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, maka sangat sulit dalam pengelolannya.
Untuk mengembalikan kualitas bekas areal sehingga dapat
dijadikan lahan pertanian memerlukan investasi yang sangat besar, yang
sebenarnya kewajiban penambang.
Penambangan intan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan
akan menyebabkan terancamnya daerah sekitarnya dari bahaya erosi dan tanah
longsor sebagai hilangnya vegetasi penutup tanah. Pembongkaran lahan secara
besar-besaran juga menyebabkan terjadinya bentang alam (morfologi dan
topografi), yaitu perubahan sudut pandang dan bentuk lereng. Pengupasan,
penimbunan tanah penutup dari penggalian sumber daya alam menimbulkan perubahan
pada drainase, debit air sungai, dan kualitas permukaan pada saat hujan. Aspek
tersebut adalah:
a.
Aspek Hidrologi
Pada musim hujan, mata air keluar di banyak tempat pada
lembah- lembah di kaki bukit, tetapi pada musim kemarau sebagian besar dari
mata air tersebut kering karena di sepanjang bukit sebagian besar sudah gundul.
Pada beberapa lembah yang agak dalam dan datar sering ditemukan rawa atau
genangan air yang cukup besar terutama di musim hujan. Genangan-genangan
tersebut mempunyai kenampakan air yang bermacam-macam, dengan warna cokelat
karena keruh, warna kehijauan sampai warna merah. Hal ini menunjukkan bahwa
kualitas air di dalam kolam-kolam tersebut juga beragam.
b.
Aspek Geologi
Tumpukan batuan penutup (overburden) yang dibiarkan
tertutup secara tidak teratur bukaan tambang menghasilkan bukit-bukit kecil dan
lubang-lubang. Demikian juga bekas bukaan yang tidak ditutup kembali juga akan
menghasilkan lubang yang akan terisi oleh air hujan. Kenyataan di lapangan yang
banyak terdapat kolam berisi air hujan, mengindikasikan bahwa timbunan tanah
bekas galian bersifat kedap air, resapan air hujan untuk membentuk sistem air
tanah sangat kecil.
c.
Erosi Tanah
Erosi tanah bersifat permanen dan merupakan salah satu
dampak utama dan aktifitas penambangan. Erosi tanah menimbulkan dampak lanjutan
yaitu menurunnya kesuburan tanah di lahan terbuka sekitar lubang tambang dan
sedimentasi sungai. Sedimen hasil erosi tanah diangkut oleh aliran air larian
(runoff) masuk ke dalam sungai pada di ujung tekuk lereng dalam daerah tadah
(catchment area).
d.
Longsoran Tanah
Longsoran (overburden) dan waste rock
dapat menimbulkan dampak lanjutan berupa sedimentasi sungai. Karena jumlah overburden
da waste rock cukup banyak. Hal ini berdampak negative terhadap lingkungan yang
bersifat permanen.
e.
Sedimentasi
Sungai
Sedimentasi dari longsoran dan erosi tanah dapat terbawa
oleh aliran air larian yang masuk ke dalam sungai. Meskipun longsoran dan erosi
tanah merupakan dampak yang signifikan, tetapi sedimentasi belum tentu
mempunyai dampak yang signifikan. Sedimentasi sungai selain ditentukan oleh
jumlah sedimentasi yang masuk ke sungai, juga ditentukan oleh factor-faktor
hidrologi sungai, seperti kecepatan arus, pola arus sungai, kelandaian dasar
sungai dan morfologi dasar sungai.
f.
Gangguan Estetika Lahan
Kegiatan pertambangan pada umumnya dilakukan dengan
penambangan terbuka. Lokasi kegiatannya berderet-deret di daerah perbukitan
yang memberikan pemandangan deretan lahan terbuka berwarna cokelat, kontras
dengan daerah bervegetasi yang Nampak hijau. Perubahan bentuk lahan dan
kerusakan lainnya Nampak jelas dari kejauhan yang terlihat jelas karena
letaknya yang cukup tinggi. Hal ini akan menimbulkan gangguan terhadap estetika
lahan yang harmonis.
g.
Pencemaran Sungai
Seperti aktivitas pertambangan lainnya di Indonesia,
pertambangan intan di Kalsel juga telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan
yang cukup parah. Kegiatan eksploitasi, lubang-lubang besar yang tidak mungkin
ditutup kembali –apalagi dilakukan reklamasi— telah mengakibatkan terjadinya
kubangan air dengan kandungan asam yang sangat tinggi. Limbah yang dihasilkan
dari proses pencucian mencemari tanah dan mematikan berbagai jenis tumbuhan
yang hidup diatasnya. Pembiaran lubang-lubang bekas galian yang ditinggalkan
begitu saja dan pencemaran lingkungan akibat aktivitas pertambangan tersebut
seperti debu, rembesan air asam tambang dan limbah pencuciannya terjadi di
hampir semua lokasi pertambangan dan bahkan mencemari air/sungai yang
dimanfaatkan oleh warga. Akibat pengelolaan yang buruk ini terjadi
kerusakan lingkungan dan kehancuran ekosistem di banyak tempat, praktek
pelanggaran terhadap hak-hak rakyat, perampasan sumber kehidupan rakyat, dan
penghancuran nilai-nilai dan budaya masyarakat adat/lokal. Pengelolaan, hingga
eksploitasi yang mestinya dapat meningkatkan harkat, martabat, dan
kesejahteraan bagi rakyat Kalimantan Selatan malah justru sebaliknya
menimbulkan kerusakan lingkungan yang cukup parah, peminggiran terhadap
masyarakat lokal/adat dan kemiskinan. Saat ini pertambangan intan telah
menghancurkan sumber daya alam di Kalsel. Aktivitas pertambangan terbuka yang
telah menghabiskan tutupan lahan mengancam keberadaan daerah aliran sungai
(DAS). Sekitar 50 persen DAS di Kalsel airnya sudah keruh, karena pengaruh
kegiatan pertambangan terbuka yang menimbulkan erosi. Secara kasat mata, akibat
pertambangan terbuka di atasnya, mengakibatkan kondisi DAS di Kalsel cukup
mengkhawatirkan. Banjir pun kerap mengancam. Akibatnya, saat hujanvdebit air
yang melimpah tidak dapat tertampung lagi, sehingga DAS semakin menyempit
setelah terpengaruh longsoran atau erosi tanah dari atas lahan yang sudah
ditambang.
BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1. Pembahasan
Kegiatan
Dalam
pembahasan kegiatan lapangan ini, kegiatan dilakukan di lokasi area penambangan
intan tradisional turun temurun, tepatnya di Pendulangan Intan Tradisional,
Desa Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru Kalimantan Selatan.
Di lokasi
tersebut, dapat kita pelajari kristal dan mineral baik dari segi eksplorasi,
eksploitasi, pengolahan, dan pemasaran. Pertama dari segi pengolahan, praktikan
diajak ke salah satu tempat pengerajin batumulia atau bisa disebut juga dengan
batu akik. Praktikan dipersilahkan untuk melihat proses dari batuakik tersebut.
Proses awalnya yaitu batu dihaluskan untuk mendapatkan ukuran yang sesuai untuk
tahap selanjutnya.
![]() |
Sumber
: Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, 2014
Gambar 3.1.
Proses Penggosokan
Proses
selanjutnya yaitu proses penggosokan, dimana batu yang sudah diperhalus,
dilakukan proses penggosokan dengan menggunakan alat gosok yang disebut “Aslak”
agar batu akik tersebut dapat terlihat bentuk dan warnanya. Setelah proses
penggosokan, batu akik tersebut dipanaskan agar pori-pori batu akik dapat rapat
dan menyatu. Lalu, proses selanjutnya yaitu pengamplasan, agar batu akik
tersebut dapat memiliki harga jual dan juga mendapatkan kilap dari batu akik
tersebut. Setelah proses pengamplasan, selanjutnya proses penyanglingan, dengan
menggunakan bambu wulung sebagai proses finishing
agar batu akik lebih mengkilap.
![]() |
Sumber : Kecamatan Cempaka,
Banjarbaru, 2014
Gambar 3.2.
Proses Penggosokan dan penghalusan
Dari segi
pemasaran, biasanya para pengerajin melakukan sistem kesepakatan harga kepada
pembeli, tergantung pemesanan dan proses pembuatannya. Biasanya juga langsung
dipasarkan di Pasar Intan Martapura dengan harga jual yang tinggi.
![]() |
Sumber : Kecamatan
Cempaka, Banjarbaru, 2014
Gambar 3.3.
Batu Hasil Penggosokan
Dalam segi
eksploitasi, praktikan diajak ke salah satu tempat pendulangan intan untuk
melihat proses pendulangan itu sendiri baik dari awal hingga proses
pendulangannya. Penambangan dilakukan secara tradisional dengan alat-alat
seperti dulang, saringan, pompa air, dan sebagainya. Metode yang digunakan
dalam proses penambangannya yaitu metode hidraulicking,
yaitu menyemprotkan air dengan tekanan tinggi untuk memberai tanah. Setelah
terberai maka lumpur hasil semprotan akan didulang untuk mendapatkan mineral
yang dicari. Para pendulang intan bekerja
secara berkelompok.
![]() |
Sumber
: Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, 2014
Gamabar 3.4.
Proses pendulangan
Satu lubang galian
dikerjakan oleh satu atau dua kelompok. Mereka menganut sistem abain, yaitu system bagi hasil antara
pemilik lahan, pemilik mesin sedot, penggali lubang, dan pelenggang. Untuk
mendapatkan mineral yang dicari, digunakan alat mesin pompa yang dsebut Sluicebox. Menurut warga setempat ada 4
bagian yang terdapat di alat tersebut, yaitu Unyilan, Unyilan Tanggalan,
Kasbuk, dan Kotak Pasir.
![]() |
Sumber : Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, 2014
Gambar 3.5.
Sluicebox
Dalam segi Eksplorasi, tim asisten mengajak
praktikan untuk melihat dan mencari sampel mineral dan batuan di sekitar daerah
pendulangan dengan memplot masing-masing wilayah tempat dimana mineral dan
batuan didapatkan. Lokasi pertama ada di pendulangan intan di depan, lalu, tim
asisten mengajak praktikan menuju area yang lebih dalam lagi, agar mendapat
jenis sampel mineral dan batuan yang berbeda di tempat lain. Praktikan
diwajibkan mengumpulkan 4 sampel mineral dan 4 sampel batuan dan di
deskripsikan agar identifikasinya didapat. Setelah
rangkaian kegiatan semua sudah selesai dilaksanakan, praktikan dipersilahkan
untuk kembali ke kampus untuk mengembalikan peralatan yang dipinjam dari
laboratorium dan pulang menuju tempat tinggal masing-masing.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Keasimpulan
Intan atau berlian adalah mineral yang secara kimia merupakan bentuk Kristal
atau alotrop dari karbon. Intan terkenal karena memiliki sifat-sifat fisika
yang istimewa, terutama factor kekerasannya dan kemampuannya mendispersikan
cahaya.
Proses penambangan intan dilakukan dengan cara
tradisional dengan menggunakan dulang juga dengan cara modern dengan
menggunakan mesin penyedot. Ada dua macam cara orang berjualan intan di
Marapura ini. Yang pertama, dijual di pusat pertokoan permata, Cara yang kedua
adalah yang dikenal di kota Martapura dengan sebutan Pembalantikan Intan.
Penambangan intan yang tidak memperhatikan aspek
lingkungan akan menyebabkan terancamnya daerah sekitarnya dari bahaya erosi dan
tanah longsor sebagai hilangnya vegetasi penutup tanah.
4.1.Saran
Saran
untuk praktikum Kristalografi dan Mineralogi selanjutnya agar kegiatan
praktikum lapangan ini terus dilaksanakan di kemudian hari serta diselingi
dengan pengenalan lingkungan penambangan oleh para asisten agar dapat menambah
wawasan lain tentang ilmu pertambangan itu sendiri.
1 Komentar:
Manusia tolol
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda